Kamis, 30 September 2010

Tulisan itu Pesan Ratu Darah Putih

* Melacak Sejarah dan Benda-Benda Purbakala di Lampung
PALAS (Lampost): Prasasti di Palasaji, Lampung Selatan, salah satu pencatat sejarah penyebaran agama Islam di Lampung. Tulisan di batu hitam itu diyakini guratan tangan Ratu Darah Putih, nenek moyang Radin Inten II.
Menurut Maman (65 tahun) yang merawat prasasti sejak 1984, prasasti itu berupa batu hitam berbentuk seperti catur. Pada bagian atas ada tulisan "Allah" dan pada bagian bawah ada tulisan "Laillahaillallah". Pada permukaan batu ada tulisan aksara Jawa kuno. "Hurufnya tak beraturan; seperti ditebarkan. Kami tidak paham makna tulisan itu."

Secara turun-temurun, Maman dan penduduk setempat meyakini lokasi prasasti adalah tempat peristirahatan Ratu Darah Putih. Mereka lazim menyebutnya makam Samiatun, yang artinya saling rukun.
Jejak peninggalan Ratu Darah Putih bisa dilihat mulai dari Desa Kuripan, Penengahan, hingga Palasaji. "Kalau yang di Kuripan, kami menyebutnya Samiaji," kata kuncen Prasasti Palasaji itu.
Jejak lain ada di Palas Pasemah--Prasasti Palas Pasemah, ditemukan tahun 1958--yang kerap disebut Batu Tapak. Dari Palas Pasemah, jejak Ratu Darah Putih berlanjut ke Batu Payung di Pusingan, Labuhan Maringgai, Lampung Timur. "Kalau di Batu Payung, jejak Ratu Darah Putih berada di bawah air. Hanya saat sungai (Sekampung, red) surut saja jejak itu terlihat," ujarnya.

Tapi, cerita Maman dan tetua Desa Palasaji belum teruji kesahihannya. Di Museum Lampung bahkan prasasti itu belum tercatat. "Kami belum tahu ada prasasti di Palasaji, kalau Palas Pasemah ada," kata Ester Sinuraya, kasi Teknis Museum Lampung, kemarin.

Begitu juga di Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Lampung Selatan. "Kami bukan tak peduli pada benda-benda purbakala dan bersejarah, tapi penanganannya belum diserahkan UPT Kepurbakalaan (Diknas Provinsi Lampung, red) kepada kami," kata Kadis Pariwisata, Seni, dan Budaya Lamsel A.M. Ronni.

Namun, menurut Nasir, kepala Desa Kuripan, prasasti itu peninggalan Ratu Darah Putih yang membidani Keratuan Ratu Darah Putih. "Prasasti itu berisi pesan Ratu Darah Putih untuk anak-cucunya," kata Nasir yang diamini Erwin Syahrial gelar Dalom Kesuma Ratu, putra Raden Imba.

Nasir menjelaskan Ratu Darah Putih adalah putra Sultan Maulana Hasanuddin (bukan seorang putri, Lampung Post, Minggu [25-7]). Saat Ratu berkunjung ke Palasaji, ia menorehkan pesan bagi keturunannya pada sebuah batu hitam. Tapi, baik Nasir maupun Erwin mengaku tidak mengerti arti tulisan di batu itu.

Desa Palasaji berada di antara tiga desa; Palas Bangunan, Palas Pasemah, dan Rejomulyo. Menurut tetua di sana, desa itu mulai dihuni tahun 1936. Kawasan itu merupakan perpaduan hutan belantara dan kebun milik Keratuan Ratu Darah Putih.

Dari data dan catatan sejarah keturunan Keratuan Ratu Darah Putih di Desa Kuripan, Penengahan, Lampung Selatan, penduduk Palasaji berasal dari Sumatera Selatan. Awalnya mereka menempati daerah Pantai Ketapang (Kecamatan Ketapang sekarang).Bersambung n IMI/WAN/CR-4/R-1